Selama musim haji itu, Indonesia AirAsia X demi sedangkan momen menghentikan rute penerbangan Jakarta-Jeddah. Hal ini di informasikan menurut Dendy Kurniawan, Pemimpin Admin Indonesia AirAsia X saat event halal bihalal bersama Indonesia AirAsia pada Jakarta, Kamis (30/7/2015).
"Kami luncurkan rute Jakarta-Jeddah saat bulan Ramadhan lalu untuk melayani umroh," tutur Dendy.
Ia menjelaskan sepanjang musim haji, penerbangan komersial apalagi tidak melayani rute demi keperluan umroh. Nantinya, rute Jakarta-Jeddah bakal kembali beroperasi di pembuka Desember 2015.
"Kami mau tak sekedar membantu pariwisata domestik. Namun serta membantu umat Muslim Indonesia demi umroh," lanjut Dendy.
Indonesia AirAsia X adalah maskapai penerbangan berbudget rendah demi jarak jauh pembuka di Indonesia. Dendy mengatakan rute semula yang dilayani maskapai itu adalah Taipei-Bali yang diluncurkan dalam Januari 2015.
"Rute kedua ialah Bali-Melbourne direct (langsung) di Maret lalu. Kini sudah 5 kali seminggu," ujar Dendy. Rute ketiga adalah Jakarta-Jeddah yang diluncurkan pada bulan Ramadhan kemudian.
Kamis, 30 Juli 2015
Yangon, Pesona Kereta Paling Lambat dan Murah di Dunia
SEBELUM sesudah di Yangon Central Railway Station, saya pernah melongok stasiun terbesar pada Myanmar itu dari kejauhan saat melintas dalam bertemu jembatan dalam Zoological Garden Road. Deretan rel, peron yang kelihatan tua juga sedikit kumuh, juga deretan gerbong kereta kayu yang kebetulan melintas selalu lambat seakan-akan mengucapkan selamat berasal ke masa-masa lampau.
Perjalanan pada pagi yang cerah dalam kota Yangon dan juga belok kanan melewati trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual beberapa bentuk makanan termasuk mohinga, makanan tradisional Myanmar yang populer lezat tersebut.
Tiba lah saya pada gedung yang megah, tua, tapi dan cat yang telah terkelupas dan terlihat kusam bagaikan telah bukan dicat sepanjang puluhan season. Tersebut dia Stasiun Kereta Api Kota Yangon yang akan menjadi semula perjalanan liburan sepanjang hampir 3 jam mengelilingi kota Yangon dan naik Yangon Circular Railway.
Menelusuri gedung nomor satu, terlihat loket karcis, jadwal kereta, dengan dan kursi berwarna biru semacam dan kusi bus PPD pada Jakarta. Selain itu pada ruang tunggu, dengan sangat banyak calon penumpang yang duduk maupun tertidur di lantai. Saya pernah bertanya pada salah satu loket juga ditunjukkan jika tiket kereta lingkar dapat saya beli pada platform 7.
Platform 6 serta tujuh sukses dicapai dan naik jembatan yang melintas dalam melawan rel kereta. Dari sini sukses dinikmati betapa sesungguhnya stasiun central Yangon tersebut demikian megah serta mengundang decak kagum. Sayangnya keadaannya kini benar-benar bukan terawat juga kumuh. Di platform, selain calon penumpang, dan bisa ditemui pedagang asongan, penjual beraneka macam makanan dan bahkan juga anjing-anjing liar yang bebas keluyuran. Anak-anak sampingan yang bertelanjang ria serta kelihatan sedang mandi dalam satu diantaranya pojok platform.
Pada loket, saya merekrut jatah tiket seharga 300 Kyat (dibaca Chat: atau selingkungan Rp tiga.600). Petugas memberikan keterangan kalau kereta yang lain yaitu yang clockwise alias berjalan sesuai arah jarum jam dengan akan berangkat dalam pukul 10.sepuluh pagi. “Just follow me," demikian tuturnya sambil meminta saya menunggu di dekat loket.
Dalam sana serta tampak beberapa pelancong asing bagus yang berkulit putih dengan berada begitu juga rombongan gadis yang sibuk mengungkap pada bahasa Thai. Selain ini merupakan penumpang lokal yang kebanyakan memakai "long yi", sarung khas Myanmar yang ada dalam mana-mana.
Perjalanan pada pagi yang cerah dalam kota Yangon dan juga belok kanan melewati trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima yang menjual beberapa bentuk makanan termasuk mohinga, makanan tradisional Myanmar yang populer lezat tersebut.
Tiba lah saya pada gedung yang megah, tua, tapi dan cat yang telah terkelupas dan terlihat kusam bagaikan telah bukan dicat sepanjang puluhan season. Tersebut dia Stasiun Kereta Api Kota Yangon yang akan menjadi semula perjalanan liburan sepanjang hampir 3 jam mengelilingi kota Yangon dan naik Yangon Circular Railway.
Menelusuri gedung nomor satu, terlihat loket karcis, jadwal kereta, dengan dan kursi berwarna biru semacam dan kusi bus PPD pada Jakarta. Selain itu pada ruang tunggu, dengan sangat banyak calon penumpang yang duduk maupun tertidur di lantai. Saya pernah bertanya pada salah satu loket juga ditunjukkan jika tiket kereta lingkar dapat saya beli pada platform 7.
Platform 6 serta tujuh sukses dicapai dan naik jembatan yang melintas dalam melawan rel kereta. Dari sini sukses dinikmati betapa sesungguhnya stasiun central Yangon tersebut demikian megah serta mengundang decak kagum. Sayangnya keadaannya kini benar-benar bukan terawat juga kumuh. Di platform, selain calon penumpang, dan bisa ditemui pedagang asongan, penjual beraneka macam makanan dan bahkan juga anjing-anjing liar yang bebas keluyuran. Anak-anak sampingan yang bertelanjang ria serta kelihatan sedang mandi dalam satu diantaranya pojok platform.
Pada loket, saya merekrut jatah tiket seharga 300 Kyat (dibaca Chat: atau selingkungan Rp tiga.600). Petugas memberikan keterangan kalau kereta yang lain yaitu yang clockwise alias berjalan sesuai arah jarum jam dengan akan berangkat dalam pukul 10.sepuluh pagi. “Just follow me," demikian tuturnya sambil meminta saya menunggu di dekat loket.
Dalam sana serta tampak beberapa pelancong asing bagus yang berkulit putih dengan berada begitu juga rombongan gadis yang sibuk mengungkap pada bahasa Thai. Selain ini merupakan penumpang lokal yang kebanyakan memakai "long yi", sarung khas Myanmar yang ada dalam mana-mana.
Genjot Kunjungan Wisatawan, Kemenpar Sertifikasi
Kementerian Pariwisata terus berupaya melakukan terobosan di mendatangkan kunjungan pelancong MICE menuju Indonesia, salah satunya mendapat sertifikasi tempat penyelenggaran aktifitas konferensi bertaraf global.
"Kementerian Pariwisata saat ini sudah melakukan beraneka terobosan, akhirnya tempat acara pertemuan liburan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) yang berada di Tanah Air memiliki standar dengan sertifikasi, akhirnya lembaga atau organisasi bumi yang menyelenggarakan konferensi menentukan tempat di Indonesia," jawab Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Alam juga Buatan Kemenpar, Aswir Malaon di kegiatan "Focus Tim Discussion (FGD)" MICE di Kuta, Bali, Rabu (29/7/2015).
Dia menjelaskan potensi dan tempat mengadakan konferensi bertaraf nasional serta internasional pada Indonesia telah terhidang, namun segala penyelenggara aktifitas paling menanyakan standar dan sertifikasi yang dimiliki.
"Persyaratan penyelenggaran event pertandingan mancanegara sangat menanyakan pendukung dari tempat ini, yakni standarisasi serta sertifikasi. Persyaratan itu selalu mutlak diperlukan. Anda sudah memiliki tempat bertamasya MICE, antara lain pada Jakarta, Bandung, Surabaya serta Bali, Tapi perlu didukung sertifikat itu," ujarnya.
Tetapi dikarenakan tersebut, ujar ia, pihaknya melakukan FGD, yakni pada Bali, Yogyakarta juga Makassar pada upaya menerima data lokasi serta masukan-masukan dari praktisi pariwisata dan pemangku kepentingan terkait.
"Langkah ini tetap menentukan guna menerima informasi juga masukan dari pemangku kepentingan, serta langkah-langkah yang dipertemukan demi dapat seluruh lokasi konferensi berstandar juga bersertifikasi," bebernya.
"Kementerian Pariwisata saat ini sudah melakukan beraneka terobosan, akhirnya tempat acara pertemuan liburan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) yang berada di Tanah Air memiliki standar dengan sertifikasi, akhirnya lembaga atau organisasi bumi yang menyelenggarakan konferensi menentukan tempat di Indonesia," jawab Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Alam juga Buatan Kemenpar, Aswir Malaon di kegiatan "Focus Tim Discussion (FGD)" MICE di Kuta, Bali, Rabu (29/7/2015).
Dia menjelaskan potensi dan tempat mengadakan konferensi bertaraf nasional serta internasional pada Indonesia telah terhidang, namun segala penyelenggara aktifitas paling menanyakan standar dan sertifikasi yang dimiliki.
"Persyaratan penyelenggaran event pertandingan mancanegara sangat menanyakan pendukung dari tempat ini, yakni standarisasi serta sertifikasi. Persyaratan itu selalu mutlak diperlukan. Anda sudah memiliki tempat bertamasya MICE, antara lain pada Jakarta, Bandung, Surabaya serta Bali, Tapi perlu didukung sertifikat itu," ujarnya.
Tetapi dikarenakan tersebut, ujar ia, pihaknya melakukan FGD, yakni pada Bali, Yogyakarta juga Makassar pada upaya menerima data lokasi serta masukan-masukan dari praktisi pariwisata dan pemangku kepentingan terkait.
"Langkah ini tetap menentukan guna menerima informasi juga masukan dari pemangku kepentingan, serta langkah-langkah yang dipertemukan demi dapat seluruh lokasi konferensi berstandar juga bersertifikasi," bebernya.
Langganan:
Postingan (Atom)